Sunday, 24 July 2011

Memandang Cinta Dari Cermin Hati ..


Memandang Cinta Dari Cermin Hati ...
Ketika hati mendapatkan kedamaian dengan yang dicintai,
Mana mungkin ia menghendaki lainnya?
Sekali bunga teratai dibelai kehangatan matahari,
Akankah ia menginginkan rembulan?
Ketika jiwa dahaga akan seteguk air jernih, tak ada gunanya gula.

Tempat Cinta adalah hati, dan hati adalah emas murni.
Keagungan ilahiah menggosoknya dengan menatapnya,
Menjadikan terang dan murni.
Jejak-jejak cahaya keindahan Cinta tiada terperi muncul dalam cermin
keshalehan hati.
Cinta manusiawi hidup melalui Cinta ilahi ...

Ketika engkau mencintai wanita , genggamlah hatinya karena ia adalah "kunci emas" kasih sayang Ilahi yang dapat menahan derasnya hujan-badai, panas -teriknya mentari, dan silau emas -permata.

Ketika engkau membelai rambutnya yang berkilau, berbahagialah sebab cinta telah menyegarkan dirimu dengan keharuman surga.

Ketika engkau menggenggam tangannya dengan genggaman kasihmu , maka rasakanlah kelembutan jemari-jemari Ilahi yang telah memayungi hatimu dari keresahan dengan senandung kedamaian.

Ketika engkau mendengar suaranya yang teduh menenteramkan bathinmu , berbahagialah sebab cinta sedang memandang dari kedalam jiwa, bersenandung bersama kicau burung dan kecantikan putik-putik bunga.

Ketika engkau melihatnya tersenyum , maka berbahagialah karena cinta telah membasuh luka hati dengan senandung air mata kebahagiaan dan tangis rindu.

Ketika engkau melihat sepasang matanya yang indah , berbahagialah karena engkau telah menterjemahkan segala rahasia hati yang bersemayam didalam bathinnya.

Ketika engkau mendengar dirinya bersenandung ,ikutlah bernyanyi bersamanya, karena tidak ada ungkapan yang kasih yang lebih indah-dari ungkapan; yang keluar dari sepasang insan yang sedang dilanda badai asmara.

Ketika engkau melihat cinta dengan hasrat kasih Ilahi , maka berbahagialah karena kidung semesta telah merestui dan memberkati ladang-ladang Ilahi dari hujan yang turun dari kesucian langit

Karena apalah artinya cinta -selain kesejatiannya , cinta telah bahagia dengan mahkota keabadiannya , cinta tidak memerlukan apapun selain darinya , karena cinta telah cukup untuk cinta -ia takkan pernah pudar , selamanya berpijar, serta bersemayam dikedalaman jiwa -setiap insan yang terberkati oleh-Nya.

Jika kau merasa lelah dan tak
berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia..
Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan
hatimu masih terasa pedih.
Allah SWT sudah menghitung air matamu.

Ketika kau fikir bahwa hidupmu
sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berjalan begitu saja.
Allah SWT sedang menunggu bersamamu.

Ketika kau berfikir bahwa kau sudah mencoba
segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi..
Allah SWT sudah punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal
dan kau merasa tertekan.
Allah SWT dapat menenangkanmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu
terlalu sibuk untuk menyapamu
Allah SWT selalu berada disampingmu.

Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati
yang tak kunjung datang..
Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang
lebih besar dari segalanya dan Dia telah
menciptakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.

Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang,
namun kau tahu cintamu tak terbalas.
Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu dan
Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu.

Ketika kau merasa telah dikhianati dan dikecewakan.
Allah SWT dapat menyembuhkan lukamu dan membuatmu tersenyum.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak- jejak harapan.
Allah SWT sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin
mengucap syukur. Allah SWT telah memberkahimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.
Allah SWT telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi.
Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat dimanapun kau atau kemanapun kau
menghadap. Allah SWT Maha Mengetahui…

Saturday, 9 July 2011

Uhibbuka Fillah


Melihat air yang mengalir di sungai ini, hatiku bertambah syahdu. Air yang mengalir, deru yang mengelus, bagai menemani sedihku akan sebuah kehilangan. Aku akan terus disini menantimu sahabatku, aku kini akan memenuhi impianmu...
"Luqman, apa yang kau buat?" Luqman tersenyum padaku. Air matanya tiba-tiba bergenang sayu, "aku isi permohonan sambung belajar di Mesir." Aku tersentak mendengar jawapannya. "Kau serius?" Luqman tidak menjawab persoalanku, aku bagaikan disimbah kehangatan pilu.
"Iqbal, ana uhibbuka fillah," Luqman menatap mataku, tangannya berhenti menulis.
Kalimah agung itu diucap lagi. Aku sahaja yang masih belum mampu menuturkannya. Aku tidak berani bertanya lagi, aku takut diriku pilu, aku takut hatiku tidak mampu untuk menerimanya.
Tiga hari aku tidak hadir ke sekolah, suhu badanku mendadak naik, mengangkat tangan pun aku tidak larat, apatah lagi mahu melangkah keluar dari bilik. Luqman juga tidak kuhubungi. Sengaja! Aku tahu, sakitku ini berpunca dari berita yang kudengar. Aduh, hatiku belum mampu menerimanya, pilu apabila memikirkan Luqman akan meninggalkanku. Air mataku menitis tiap kali aku memikirkannya.
Pagi itu apabila aku membuka mata, aku lihat Luqman terlena disisi katilku. Dia duduk di atas kerusi sambil kepalanya terlentok di birai katil, jemarinya memaut erat lenganku. Dinihari tadi, aku ada tersedar, aku lihat ada orang sedang sujud di hujung katilku, tetapi kepalaku terasa terlalu berat untuk ambil tahu siapakah dia. Lama dia bersujud, hingga aku terlena kembali. Luqman rupanya... aku cuba menggerakkan tanganku dan Luqman segera terjaga.
Tersenyum dia ke arahku, matanya bengkak, sungguh dia tidak mampu menyembunyikan tangisannya sepanjang malam. Mahalnya aku tika itu untuk membalas senyumannya.
Dalam beberapa jam sahaja, suhu badanku semakin meninggi. Akhirnya aku masuk ke wad ICU kerana demam panas. Luqman langsung tidak meninggalkanku. Seminggu aku dirawat, seminggu itulah dia sanggup terlepas pelajarannya. Sungguh! Syahdunya saat itu.
Aku berlari keriangan, dalam genggamanku ada sepucuk surat. Sampulnya biru. Dari tulisan tangan di muka depan sampul surat itu, aku tahu siapa pengirimnya, aku tahu suratku berbalas, aku tahu dia membalas kirimanku. Aku hanya ingin mencari Luqman.
Luqman kehairanan melihatku, " kenapa ni?" Aku lantas memeluknya. Lantas ku suakan surat itu kepadanya, "surat apa ni?" berkerut dahi Luqman. "Asiah Maisara balas surat aku," senyumku sampai ketelinga, tersengeh macam kerang busuk. "kau tak cakap pun pada aku yang kau bagi surat untuk Asiah Maisara?" aku menjawab soalan Luqman dengan hanya senyuman.
Luqman sudah tahu tentang perasaan hatiku pada Maisara, tentu dia dapat mengagak apa isi suratku. Luqman menarikku ketaman, jauh dari orang. Aku masih diselubungi bahagia.
Luqman duduk di atas rumput, aku ikut serta, senyuman aku tiba-tiba hilang apabila aku melihat raut wajah Luqman yang sedikit tegang. Namun masih kelihatan tenang, sejuk hatiku.
"Iqbal, sahabat yang Luqman sayang, ketahuilah sayang Luqman kepada Iqbal hanya kerana Allah. Lama sudah aku ingin menegur isi hatimu, namun kupendam jua, mencari waktu yang sesuai. Sebelum kau buka sampul surat itu, dengarlah luahan hatiku.
Iqbal, yang kucintai, tidak salah menyayangi seorang perempuan kerana itu fitrah. Namun pabila fitrah disalah guna, jadilah ia fitnah. Fitnah itu ada bermacam-macam jenis, salah satunya adalah zina.
Zina itu dilaknat Allah. Zina pula ada bermacam-macam jenis. Zina hati, apabila kita merindui dan berkhayal orang yang kita rasa kita cintai, dan ajnabi bagi kita. Zina tangan, apabila kita telah memegang ajnabi, menulis kata-kata cinta untuk si dia juga dianggap zina tangan. Zina mata, apabila kita selalu memandangnya, bahkan menjelingnya. Nauzubillah.
Iqbal, sahabat yang kukasihi. Cinta yang benar-benar sejati adalah cinta Allah, kemudian cinta Rasul. Aku ingin mengajak kau bercinta bersama-sama denganku. Cinta Allah tidak pernah mengecewakan, cinta Allah selama-lamanya abadi."
Aku menitiskan air mata mendengar madah bicaramu, hatiku basah dengan linangan syahdumu. Dan bermula saat itu, kau mengajar aku mengenal cintanya Robbi. Aku membuka lipatan surat ditanganku. Kertas itu hanya dihiasi serangkap madah;
"Cinta yang kucari adalah cinta Ilahi. Hati ini masih belum benar-benar mencintai Ilahi, aku tidak rela meretakkan cinta yang kusulam dengan cinta ajnabi. Carilah cintaNya yang hakiki, nescaya kau tidak kecewa dengan duniawi."
–Asiah Maisara-
Menitik air mataku disetiap sujudku. Saban ketika aku terbayang gadis solehah bertudung labuh itu, yang menemaniku, sesalan khilafku.
Suatu hari, Luqman menghadiakanku Quran terjemahan sedangkan Luqman tahu aku sudah punya satu.
"Ambillah, ini pemberian dari orang yang kau cinta."
Aku anggap itu pemberian darimu, lantas kupeluk dan kucium, ku bawa kemana sahaja.
Saat itu, cintaku pada Asiah Maisara telah kucampakkan kepinggir hati agar dia tidak mencuri cintanya Robbi.
Tamat sahaja kertas terakhir SPM, Luqman menghulurkan satu borang kepadaku. Tersenyum dia menatapku, "Ini borang kursus dakwah dan tarbiah, dua tahun di Madarasah As-salasussoleh."Pakcik aku yang anjurkan. Tempat aku dan kau dah tersediaSetujulah?!"
Dua tahun? Sempatkah Luqman menghabiskannya bersama denganku. Tawaran ke Mesir akan sampai sebelum itu. Tegakah?
Namun aku tidak berani bertanya, takut ke ICU lagi. Sejak peristiwa dahulu, Luqman tidak lagi membuka kisah ini, mengerti barangkali. Kami teruskan jua perjuangan di As-salafussoleh.
Luqman banyak membantu. Tika aku masih belum mampu bangun tahajjud, sabarnya dia mengejutkanku. Kadang-kala, tanpa sedar aku membentaknya. Aku jua tahu, dia memberi bermacam-macam alasan kepada pelatih, agar dia mampu membimbingku sendiri tanpa paksaan. 
Menghafal al-Quran juga begitu. Kami sama-sama, tetapi dia lagi mudah menghafal dariku. Malah aku tahu sesetengah surah telah dihafalnya, namun dia sengaja mengulangnya berkali-kali dan tidak beralih kesurah lain, melainkan aku telah menghafalnya dengan fasih.
Luqman, betapa sabarnya kau membimbingku. Keputusan SPM keluar, tika kita masih dalam perjuangan. Keputusan Luqman cukup cemerlang. Aku tahu dia akan layak meninggalkanku untuk memenuhi impiannya ke Bumi Anbiya. Diam-diam aku mengisi borang permohonan ke sana. Aku ingin menyusulmu, walaupun bukan hari yang sama denganmu.
Suatu hari, tika Luqman tiada di biliknya, aku perasan akan surat itu dalam timbunan segala kitab. Seolah-olah Luqman mahu menyembunyikannya dari sesiapa sahaja.
-Surat tawaran melanjutkan pelajaran ke Universiti al-Azhar, Mesir-
Tersentak jantungku, apa yang aku bayangkan Luqman akan pergi meninggalkanku dibumi ini sendirian lagi. Namun ku lihat tarikh surat itu, 3 bulan yang lalu, dan tarikh yang sepatutnya dia bertolak ke Mesir adalah...KELMARIN.
Terduduk aku disitu, lantas kusujud. Allah, Kau mengerti akan deritanya hatiku seandainya Luqman jadi pergi. Allah, aku tahu Luqman berkorban demiku, mengorbankan cita-citanya demi sahabat tercinta.
Aku kembali meletakkan surat itu di tempat asalnya. Aku tidak mahu Luqman tahu, aku tahu akan kisahnya. Aku tidak mahu Luqman tahu aku berkongsi derita sebuah impian yang tidak kesampaian.
Ingin sekali aku bertanya mengapa dia melepaskan peluang ini. Tetapi, entah kenapa, aku tidak sanggup. Kupendamkan jua.
Sampailah suatu hari...
Selesai solat subuh Luqman menyalamiku, matanya sembap, aku tidak tahu mengapa, tangannya terasa beku. Luqman mendakapku.
Aku merasakan dakapannya memaut bahuku. Debar! Semakin berat dan semakin berat.
"Luqman?"
Kau tidak menjawab teguranku, badan Luqman seolah-olah menggelongsor dari pelukkanku.
"Luqman,"
Allahhu Akbar, saat itu jantungku, hanya Robbi yang mengerti.
 Aku sempat memautnya, aku terduduk, memangku Luqman, ku paut lengannya, aku biarkan dia baring di ribaanku. Luqman sempat tersenyum padaku sebelum matanya kian terpejam dan terus terpejam. Wajahnya pucat, bibirnya biru, namun raut tenangnya seolah-olah memujuk hatiku.
"Luqman, 
 bibirku bergetar, aku menggoncang tubuhnya, namun tubuh itu terus beku. Menitis airmataku, Luqman dikejarkan ke hospital.
Hancur luluh hatiku melihat derita Luqman. Sepanjang hari aku menemani Luqman, tidak sejenak pun aku tinggalkan. Solat pun di situ, makan sudah aku lupakan. Apa yang ada dihatiku, fikiranku, mataku, sentuhanku hanyalah Luqman. Sepanjang hari Luqman tidak sedarkan diri.
Pucat lesi wajahnya merenggut jantungku. Malam itu aku bertahajjud lama. Sepanjang doa yang kurintihkan, airmata yang menemaninya. Sepenuh pengharapan kuserahkan pada Ilahi, mohon agar dikembalikan Luqman kepadaku.
Esoknya Luqman mulai sedar, namun dia belum mampu berbicara. Apa yang dilakukan padaku hanyalah tersenyum. Aku tahu dia mahu aku tabah, tabah harungi ujian ini. Senyuman itu juga menunjukkan dia kuat mengharungi ujian ini.
Seminggu berlalu, Luqman kelihatan semakin pulih. Orang yang paling gembira adalah aku. Mulanya Luqman solat, hanya dengan gerakan mata, kini dia sudah boleh mengiring menghadap kiblat.
Saban malam aku sujud syukur pada Ilahi, ku mohon agar Luqman diberikan kesembuhan sepenuhnya.
"Iqbal!"
Aku tersentak, rintihanku disela teguran Luqman. Aku cepat menghapuskan air mataku. Segeraku hampiri Luqman. Tanganku spontan mengusap ubun-ubun Luqman. Allah, rambutnya gugur. Aku cuba mengawal reaksiku, kerana aku tahu Luqman sedang menatapku.
"ana uhibbuka fillah," 
 sayu suara Luqman menyapa pendengaranku, air mataku lantas mengalir deras di pipi Luqman tersenyum sambil air matanya turut mengalir. Aku lantas memeluk Luqman erat-erat,"ana uhibbuka fillah, Luqman."
Aku terasa Luqman membalas pelukkanku. "Itu yang pertama, kau ucapkan? Sudah lama aku menanti, bertahun rasa dan akhirnya..." ayat itu diakhiri esakkan. Aku menangis dan dia juga. Esakkannya semakin perlahan, "kau tahu..." katanya memulakan bicara. Aku melepaskan pelukan sedikit demi sedikit. "Aku dapat tawaran ke mesir," diam sejenak. "Dan aku tahu kau sudah tahu," airmataku menitis lagi. Aku tidak berani bersuara. 
"Tetapi apabila aku istiqharah, dalam sujudku, aku hanya nampak bayangan wajahmu, Iqbal. Kadang kau menangis, kadang kau ketawa. Setiap kali istiqharahku, bayangan kau yang menemani, aku jadi keliru, mengapa begini?"
 "Suatu malam aku bermimpi, kau dan aku di sungai yang selalu kita kunjungi. Kau kata, Allah tidak mahu aku ke Mesir, Allah mahu aku disisi kau, menemaniku. Kerana itulah aku menolak tawaranku ke sana. Aku tahu mimpiku petunjuk yang esa. Takku sangka begini akhirnya."
Air mata Luqman menitis, aku pantas memeluk Luqman kembali, dengan tangisan. Luqman berbisik padaku, "esok bawakan aku ke sungai itu. Aku ingin bersamamu buat kali terakhir." Aku mengangguk lesu. Moga itu bukan kali terakhir.
"Aku punya satu permintaan lagi."
"Apa, Luqman?"
"temani aku dengan alunan al-Quran dan zikir dari suaramu, Iqbal." 
 Akan ku tunaikan permintaanmu, Luqman.
Setelah mendapat kelulusan daripada pihak hospital dan memberi jaminan membawa Luqman kembali ke sini, aku dan Luqman akhirnya sampai jua ke kawasan air terjun ini. "kau tahu kenapa aku suka sangat kawasan air terjun ini?" Aku memandang Luqman, dia tersenyum menatap aliran air sungai yang mengalir. Ya Allah, betapa Luqman menyembunyikan derita sakitnya. Aku menahan air mataku dari terus mengalir, aku mahu Luqman lihat aku kuat.
"kau pernah beritahu aku, saban ketika kita berkunjung kesini. Kau kata kau suka dengar alunan zikir di sini. Kau suka dengar suara sungai dan air terjun ini mengucap tahmid kepada Allah, angin menderu mengalun tasbih kepada 'yang Satu' dan unggas yang bersama-sama denganmu melafazkan takbir." 
 Luqman senyum lagi, betapa senyumannya menyejukkan hatiku.
"Iqbal!"
"ya!"
"ana uhibbuka fillah"
"ana uhibbuka fillah aidhan."
Aku sudah kuat untuk membalas kata-kata itu dan aku kuatkan diri, supaya air mata ini tidak menitik ke pipi.
"Kau tahu, setelah Allah dan Rasul, kedua-dua arwah ibu dan ayahku...kau hadir saatnya aku kehilangan mereka...insan yang kucintai, setelah mereka, sepenuh hatiku, adalah engkau Iqbal!"
Menitis jua airmataku, tidak mampu kutahan lagi. Kupeluk Luqman seerat-eratnya.
"kerana kau jua kucintai sepenuh hati, Luqman"
Pulang dari air terjun, Luqman meminta untuk berehat, lantas Luqman tidur. Dua hari Luqman tidak sedarkan diri. Tapi doktor cakap keadaan Luqman stabil, Luqman sudah melepasi saat-saat kritikal. Itu sudah cukup membuatkan aku tenang.
Aku sentiasa di sisinya, menunaikan janjiku, mengalun al-Quran. Kadang-kadang apabila aku penat, aku alunkan zikrullah. Sekali-sekala aku melihat Luqman tersenyum dalam lenanya. Penatku hilang, lantas ku sambung bacaanku.
Petang itu adikku datang, membawa surat yang sampai di rumah. Rupa-rupanya surat tawaran ke Mesir. Jadual penerbangannya lebih kurang 4 bulan lagi. Aku ingin memberitahumu, Luqman.
Apakah aku jua akan bekorban seperti mana pengorbanan yang pernah Luqman relakan?
Pagi esoknya Luqman membuka mata. Gembiraku bukan kepalang. Nampak sahaja diriku, Luqman tersenyum, dan perkataan yang pertama keluar adalah, "ana uhibbuka fillah, Iqbal."
Menitis airmataku. Luqman nampak segar, tiada kesakitan di wajahnya. Serasanya ada cahaya yang bersinar menyuluh harapan.
Ku genggam surat tawaranku.
"Balaslah, katakan untuk kali terakhir."
Aku tersedu. "Luqman, ana uhibbuka fillah sepenuh hatiku."
Luqman tersenyum. "moga Allah mempertemukan kita di syurga."
Aku mengangkat surat tawaranku. Belum sempat aku bicara, Luqman sudah mula berkata,"bisikkan padaku syahadah." Aku tersentak, jantungku direnggut. Namun ku sembunyikan. Aku menurut, ku dekatkan wajahku ketelinganya.
"Terima kasih kerana menjadi sahabatku Iqbal. Yang aku cintai semata-mata kerana Allah." Menitis jua airmata Luqman di pipinya.
"Terima kasih buatmu jua sahabatku."
Luqman diam, matanya terpejam, aku mengalunkan syahadah di sisi telinganya, aku mendengar halus suara Luqman mengikut. Aku teresak.
"Asyhadu anla ilaha illallah waasyhadu anna muhammadar-rasulullah."
Kemudian suasana menjadi sunyi. Aku kembali berdiri. Entah bagaimana sinar mentari dhuha bisa mencelah masuk, menyinari ubun-ubun Luqman. Dan hembusan nafas terakhir kalinya meninggalkan aku. Aku terduduk. Semacam kudengar bisikan Luqman,
"kerana Allah bersama denganku, Allah jua di sisimu Iqbal. Pasrahlah."
Aku terima pemergian dia, insan yang kucinta. Sebentar lagi aku akan terbang menunaikan impian Luqman. Terbang untuk mendengar tasbih, tahmid dan takbir sungai Nil. Kupeluk erat Quran terjemahan yang Luqman hadiahkan.
"Masih erat ya, nta peluk Quran pemberian ana."
Aku tersentak, ku dongak, seorang gadis berpurdah berdiri di hadapanku ditemani seorang lelaki. Aku kenal lelaki disisinya, tentu gadis berniqab ini kakaknya, "Asiah Maisara?"
Aku nampak bening matanya mengecil, barangkali dia sedang tersenyum. "Boleh ana pegang Quran itu sebentar?"
Dalam kekagetan, aku menyerahkan Quran ditanganku kepada Maisara. Betul-betul didepan mataku, Asiah Maisara menyelitkan sepucuk surat dalam helaian al-Quran itu. Aku terkesima.
Dia kembali memberikan Quran itu padaku. "Ana minta diri dulu," dan dia berlalu. Aku membuka Quranku dan melihat tulisan pada sampul surat yang diberikan 'balasan surat ini adalah untuk surat yang nta beri waktu sekolah dahulu'.
Aku tersenyum, teringat kembali kata-kata Luqman, "ambillah, ini pemberian dari orang yang kau cinta." Aku memeluk dan mencium Quranku.
-Seperti yang nta tahu, ana adalah mahasiswi universiti yang akan nta jejaki. Telah ana ceritakan tentang nta pada Abi ana. Dua bulan lagi, kami sekeluarga akan mengerjakan umrah. Selesai umrah, abi ana akan menikahkan ana dengan lelaki pilihan ana. Dan lelaki pilihan ana adalah nta Iqbal. Semoga nta sedia menunggu ana disana, kerana ana yakin ana masih dihati nta. 
 -Asiah Maisara-